header_ads

Linguaphone.id

4 Hal yang Ada Di Kebun Raya Bogor Selain Koleksi Tanaman

Sejarah tempat yang terkenal memiliki koleksi tumbuhan lengkap ini menarik. Penelusuran Beritabogor.com, kebun tempat ini telah ada sejak zaman Kerajaan Sunda, pada awal 1400-an.

Situs itu menuliskan Kebun Raya Bogor pada mulanya merupakan bagian dari 'samida', hutan buatan atau taman buatan, yang diperkirakan telah ada pada pemerintahan Sri  Baduga Maharaja, Prabu Siliwangi, pada 1474-1513, dari Kerajaan Sunda.

Sebagaimana tertulis dalam prasasti Batutulis. Hutan buatan itu ditujukan untuk keperluan menjaga kelestarian lingkungan sebagai tempat memelihara benih benih kayu yang langka. Di samping samida itu, dibuat pula samida yang serupa di perbatasan Cianjur dengan Bogor (Hutan Ciung Wanara). Hutan ini kemudian dibiarkan setelah Kerajaan Sunda takluk dari Kesultanan Banten. 

Hingga Akhirnya pada masa penjajahan Kebun tersebut pertama kali ditata oleh Pemerintah Inggris, sebagai kebun untuk Istana Bogor yang ditinggali oleh Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles bersama isterinya pada tahun 1811 hingga 1816.

Lahan seluas 47 hektar yang semula merupakan halaman tersebut dikembangkan menjadi kebun oleh seorang ahli botani asal Inggris bernama William Kent, sehingga bergaya Inggris klasik.

Pendirian kebun botani tersebut pertama kali digagas oleh pejabat Pemerintah Hindia Belanda bernama Prof. Caspar Georg Karl Reinwardt, seorang Direktur Pertanian, Seni, dan Pendidikan Belanda untuk Pulau Jawa. Salah satu tugasnya adalah melakukan penelitian terhadap berbagai macam tanaman serta eksplorasi flora dan masalah pertanian.

Reindwart kemudian mengusulkan kebun botani tersebut sebagai  lahan pengumpulan tanaman dan benih dari berbagai daerah di Nusantara. Ide tersebut kemudian disetujui oleh Baron van der Capellen, selaku Komisaris Jenderal Hindia Belanda.  

Pada tanggal 18 Mei 1817, kebun botani di Bogor resmi didirikan dengan nama ‘sLands Plantentuin te Buitenzorg.

Ada beberapa fakta menarik mengenai Kebun Raya Bogor yang mungkin belum banyak 

orang mengetahuinya :

1. Monumen Lady Raffles


Sekilas, bangunan ini tidak terlalu istimewa, namun jika diamati lebih dekat dan dipelajari sejarahnya bangunan ini menjadi khas dan unik. Di dalam monumen yang berbentuk cungkup tersebut terdapat sebuah prasasti yang bertuliskan puisi cinta kepada Olivia Mariamne (Lady Raffles). Olivia Mariamne ini adalah istri dari Gubernur Jenderal Thomas Stamford Raffles yang meninggal karena penyakit Malaria dan dimakamkan di Kebun Raya Bogor.

Oh thou Whom Neer My Constant Heart , One Moment Hath Forgot, Tho Fate Severe Hath Bid Us Part, Yet Still Forget Me Not

yang artinya kira kira sebagai berikut :

Kamu yang selalu berada di hatiku,Tak pernah sedikitpun kulupakan,Walaupun takdir memisahkan kita,janganlah pernah lupakan aku.

gimana gag kalah kan sama Dilan Jaman Now ?


2. Pemakaman Kuno Belanda



Kebun Raya Bogor tidak hanya menyimpan koleksi tanaman, kebun ini juga menyimpan banyak peninggalan sejarah sebelum kemerdekaan. 

Salah satu tempat yang memiliki nilai sejarah adalah komplek pemakaman belanda yang merupakan makan dari tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi terhadap Kebun Raya Bogor. Pemakaman ini telah ada sebelum Kebun Raya Bogor berdiri, namun kompleks pemakaman ini diresmikan oleh Caspar Goerg Karl Reinwardt yang menjabat sebagai pemimpin Kebun Raya Bogor pada tahun 1817.

Pada area pemakaman ini terdapat 42 Makam yang terdiri dari makam D.J. dee ee Erens, seorang gubernur jendral yang menjabat 1836-1849, Mr.Ary Prins seorang ahli hukum yang pernah dua kali menjabat sebagai pejabat sementara gubernur jenderal Hindia Belanda.

Makam lain adalah makam dari dua ahli Biologi Belanda yang dikuburkan dalam satu makam, yaitu Heinrich Kuhl dan J.C.Van Hasselt yang merupakan anggota The Netherlands Commissions for Natural Sciences yang dikirim ke Indonesia untuk bekerja di Kebun Raya Bogor.

Makam tertua di komplek pemakaman ini adalah makam yang sudah ada dari tahun 1784, yaitu makam sorang administrator toko obat berkebangsaan Belana yang bernama Cornelis Potsman. 

Makam terbaru dari pemakaman ini adalah makam Prof. De. A.J.G.H. Kostermans, seorang ahli Botani terkenal berkebangsaan Belanda yang menjadi Warga Negara Indonesia sejak tahun 1958, Kostermans meninggal pada tahun 1994 dan dimakamkan di pemakaman ini.

3. Taman Soedjana Kassan


Taman Lebak Soedjana Kassan atau Taman Bhineka, terletak di dalam kawasan Kebun Raya Bogor yang berdekatan dengan Lapangan Sempur Kota Bogor. Taman ini dibangun untuk menghormati jasa Soedjana Kassan yang pernah menjabat sebagai Kepala Kebun Raya Bogor pada tahun 1959 sampai tahun 1964 dan ditandai dengan kehadiran monumen patung dadanya. Replika lambang negara Indonesia Burung Garuda Pancasila yang membawa pita Bhineka Tunggal Ika di tengah taman yang dibentuk dari warna-warni kombinasi berbagai jenis tumbuhan penutup tanah menjadikan masyarakat lebih mengenalnya sebagai Taman Bhineka. Taman ini memiliki pemandangan indah dengan lanskap hamparan rumput yang luas dengan kolam air mancur bergaya klasik di pusatnya, lengkap dengan bangku taman dan keteduhan pergola yang dihiasi dengan merahnya bunga tanaman merambat, Api dari Irian (Mucuna novoguineensis).

4. Maqom Keramat Ratu Galuh Mangku Alam


Lokasi Makam Ratu Galuh Mangku Alam Bogor berada di dalam kompleks Kebun Raya Bogor, di dekat Jembatan Merah yang melintas di atas Kali Ciliwung. Sosok Ratu Galuh dipercayai sebagai istri Sri Baduga Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran. 

Di dalam kompleks yang sama terdapat makam Mbah Japra, panglima perang Prabu Siliwangi, serta makam Mbah Baul, patih Prabu Siliwangi. Keberadaan tiga makam itu dijadikan semacam bukti akan adanya Kerajaan Pajajaran di wilayah Bogor. 

Kompleks Makam Ratu Galuh telah dilindungi pagar besi berwarna hijau dan diberi pintu. Makam Ratu Galuh berada paling dekat dengan pintu pagar, dimana terdapat tempat bersimpuh berlapis keramik yang cukup lega. Pada nisan makamnya terdapat mahkota berwarna keemasan, menandai statusnya sebagai seorang ratu.

Makam Mbah Japra berada di lokasi yang lebih tinggi, dengan nisan berbentuk trisula dan tameng, menandai perannya sebagai panglima perang. 

Sedangkan makam Mbah Baul, yang posisinya tidak sejajar dengan kedua makam yang lain, berhias tangkai cangkul dan nasi tumpeng, mungkin sebagai penanda bahwa tugas patih adalah memakmurkan rakyatnya.(red.)







Diberdayakan oleh Blogger.