header_ads

Pos Minum Obat Untuk Eliminasi Penyakit Kaki Gajah

Pos Minum Obat Filariasis Sejak 2015 hingga 2020 

BERITA BOGOR - beritabogor.com o  Masyarakat Kabupaten Bogor tergolong rawan penyakit kesehatan Filariasis` atau penyakit kaki gajah. Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor melakukan upaya pencegahan penyakit jiwa dan kaki gajah dengan melakukan sosialisasi mulai dari tingkat kecamatan, puskesmas, pelatihan hingga distribusi obat sejak tahun 2015.

Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, dr. Camelia W. Sumaryana mengatakan mulai tanggal 03-10 Oktober tersebar Pos Minum Obat Filariasis dalam rangka eliminasi dan pencegahan penyakit kaki gajah di wilayah Kabupaten Bogor. "Dinkes telah melakukan kegiatan pelaksanaan pencegahan penyakit kaki gajah mulai dari pencanangan, pelaksanaan, pemantauan kejadian dan penyelenggaraan Pos Minum Obat," jelasnya, Minggu (02/10). 

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, jelas dr. Camelia, bahwa tingginya angka penderita kaki gajah yang terjadi di seluruh wilayah Indonesia, berdasarkan catatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI penderita mencapai 14.934 kasus yang tersebar di 418 Kabupaten/Kota di 34 Provinsi. 

Untuk itu, Pemerintah pusat dalam hal ini Kemenkes RI bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor, terus fokus melakukan periapan Bulan Eliminasi Kaki Gajah.

"Untuk menekan dan memberantas penyakit Kaki Gajah di Kabupaten Bogor,  maka dilakukan kegiatan Eliminasi Kaki gajah melalui pelaksanaan Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) Filariasis di setiap Posyandu yang ada di 40 Kecamatan di wilayah Kabupaten Bogor, terutama daerah endemis secara serentak dengan jumlah sasaran mulai dari usia 2-70 tahun," katanya simgkat.  

Menurutnya, strategi yang dilakukan dengan memutuskan mata rantai penularan filariasis dengan POPM di darah endemis. Obat akan diberikan kepada semua penduduk didaerah endemis filariasis mulai dari usia 2-70 tahun, jenis obat yang akan diberikan yaitu albendazole 400 mg, dan diethycarbamazine 100 mg. Belkaga akan dilaksanakan setiap bulan Oktober selama lima tahun berturut-turut dari tahun ini hingga tahun 2020.

"Warga juga diminta mengenali gejala tahap awal yang dirasakan jika terkena Filariasis yakni, demam berulang minimal satu hingga dua kali setiap bulan bila bekerja berat, tetapi dapat sembuh tanpa diobati. Timbul benjolan dan terasa nyeri pada lipat paha atau ketiak tanpa ada luka, tahap lanjut yang ditimbulkan yaitu. Pembesaran yang hilang timbul pada kaki, tangan, kantong buah zakar, payudara dan alat kelamin wanita, jika pembesaran dibiarkan maka akan menjadi cacat menetap,” jelasnya.

Dirinya menambahkan, dengan pemberian obat filariasis secara massal kepada masyarakat untuk menyadarkan dan meningkatkan pengetahuan masyarakat bahwa pentingnya minum obat pencegahan filariasis, serta meninghilangkan kekhawatiran terhadap reaksi setelah minum obat filariasis. “Ada dua reaksi obat dan reaksi alergi terhadap obat yang dirasakan, seperti rasa mual, pusing, demam atau alergi gatal-gatal. Reaksi tersebut disebabkan cacing dewasa filaria mati sebagai hasil kerja obat DEC dan Albendazole. Sebagian besar efek obat sembuh dengan sendirinya tidak membutuhkan pengobatan, dan bisa ditangani secara sederhana,” terangnya. (dwitama)

Diberdayakan oleh Blogger.