header_ads

Linguaphone.id

Pengasuhan Anak Berbasis Masyarakat (PABM)

Pengasuhan Anak Berbasis Masyarakat (PABM) 
Menjawab Permasalahan Kekerasan Terhadap Anak di Jawa Barat 


Kasus kekerasan dan kejahatan yang terjadi pada anak di Jawa Barat masih terus terjadi.  Hingga tahun 2015, P2TP2A Jawa Barat menangani 946 orang yang menjadi korban kekerasan. Tidak hanya kekerasan fisik,  namun juga termasuk kekerasan psikis, kekerasan seksual, dan penelantaran ekonomi. Salah satu di antaranya yang sempat mengagetkan khalayak dan mendapatkan sorotan di media massa kasus pencabulan yang dilakukan oleh ‘AS’, seorang lelaki dewasa pengidap kelainan seksual, terhadap 118 anak di kota Sukabumi. Hampir sepanjang tahun 2014, Jawa Barat tak putus dirundung berbagai kasus kekerasan terhadap anak, utamanya kekerasan dan kejahatan seksual.

Akar permasalahan dari kasus-kasus kekerasan dan kejahatan seksual terhadap anak bersifat multidimensi dan multikompleks, yaitu berakar dari nilai-nilai agama yang rapuh, permasalahan ekonomi, sosial-budaya, kesehatan jiwa, pengasuhan dalam keluarga, pendidikan, penegakan hukum, hilangnya nilai-nilai karakter bangsa, kurangnya lingkungan yang kondusif, penyediaan sarana dan prasarana untuk memberikan rasa aman dan nyaman kepada warga, sampai dengan masalah semakin terbukanya informasi dan komunikasi  yang ditawarkan oleh kemajuan teknologi, kemudahan mengakses berbagai situs termasuk situs pornografi, dan komitmen politik.

Masalah yang sangat mendasar adalah disfungsi keluarga dalam membangun ketahanan keluarga. Banyak pasangan suami istri yang menyatakan tidak siap menjadi orang tua, tidak memiliki prinsip dalam mendidik dan mengasuh anak, bahkan sebagiannya berada dalam situasi kerentanan. Sejak berdirinya P2TP2A Jawa Barat tahun 2010 sampai sekarang, terpotret sejumlah kasus dengan situasi kerentanan yang melatarbelakangi kasus kekerasan terhadap anak.

Kasus yang ditangani antara lain pernikahan yang dilakukan pada usia anak, konflik dan ketidakharmonisan rumah tangga yang berujung pada perceraian, orang tua tunggal, perebutan hak dan kuasa asuh, ibu bermigrasi kerja, dan pengalihan pengasuhan yang menyebabkan anak menjadi korban kekerasan baik fisik, psikis, seksual, maupun penelantaran ekonomi. Itulah sebabnya anak-anak putus sekolah, hidup di jalan, mengamen, mengemis, menggunakan narkoba, melakukan seks berisiko, dan menjadi korban perdagangan orang.

Keprihatinan atas angka kekerasan terhadap anak yang cenderung terus meningkat, mendorong P2TP2A melakukan inisiasi program ‘Pengasuhan Anak Berbasis Masyarakat’ (PABM) sebagai upaya preventif dan solusi atas disfungsi orientasi keluarga yang bertujuan membangun kesadaran masyarakat untuk bersama-sama memiliki kepedulian dan ikut melindungi anak-anak yang ada di lingkungan mereka sehingga masa depan anak masih dapat diselamatkan. 

Program PABM ini diimplementasikan di daerah dengan situasi kerentanan seperti yang dijelaskan di atas. Ketua P2TP2A Provinsi Jawa Barat, Netty Heryawan menandaskan, “Launching PABM hari ini di kawasan Citepus kelurahan Padjadjaran kecamatan Cicendo sebagai inisiasi awal sebelum diimplementasikan di kabupaten/kota lainnya se-Jawa Barat.” Dalam menyelenggarakan program PABM, P2TP2A Jawa Barat menggandeng Sekolah Cermat yang digawangi oleh mahasiswa dan alumni berbagai Perguruan Tinggi di Jawa Barat. 

Istri Gubernur Jawa Barat ini pun menambahkan bahwa PABM berikutnya akan diprioritaskan di sembilan (9) kabupaten sebagai basis buruh migran terbesar di Jawa Barat yang meliputi Kabupaten Indramayu, kabupaten Cirebon, Kabupaten Majalengka, Kabupaten Bandung, Kabupaten Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Karawang, Kabupaten Purwakarta, dan Kabupaten Subang.

Selama masa inisiasi awal di Citepus, Netty berencana akan melakukan supervisi selama catur wulan pertama dan hasil evaluasi akan menjadi pijakan penyelenggaraan PABM di kabupaten lain. Harapannya, dengan program ini perlindungan terhadap dapat dilakukan secara sinergi antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah setempat agar anak dapat tumbuh berkembang secara optimal sehingga potensi dan kecerdasan yang mereka miliki menjadi aset dan investasi kemajuan bangsa di masa yang akan datang. (red) foto ilustrasi
Diberdayakan oleh Blogger.