header_ads

Linguaphone.id

TPPAS Nambo Beroperasi 2016

Kerjasama Kab Bogor dan Kota Bogor mengelola sampah TPA Galuga berakhir Desember 2015 

Kepala Badan Koordinasi Pemerintahan dan Pembangunan (BKPP) Wilayah I, Dr. Ir. Supriyatno mengatakan, Tempat Pengelolaan dan Pemrosesan Akhir Sampah (TPPAS) Nambo diharapkan segera beroperasi. Pasalnya, Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Sampah di Desa Galuga, Kabupaten Bogor sudah melebihi kapasitas.

“Masih ada beberapa kendala baik secara administrasi maupun teknis. Mudah-mudahan kendala tersebut dapat segera diselesaikan,” kata Supriyatno dalam Rapat Kerja dengan Pansus II Pembahasan Perubahan Perda Provinsi Jawa Barat Nomor 12 Tahun 2010 Tentang Pengelolaan Sampah di Jabar DPRD Jawa Barat di Ruang Panmus DPRD Jabar, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin (25/1/2016).

Supriyatno mengatakan, persoalan sampah di Wilayah I yang meliputi Kabupaten dan Kota Bogor, Kabupaten dan Kota Sukabumi, Kota Depok dan Kabupaten Cianjur, adalah persoalan yang sangat krusial. Dari enam kabupaten/kota tersebut, persoalan sampah yang paling menonjol adalah di Kabupaten dan Kota Bogor serta Kota Depok. Sedangkan di Kabupaten dan Kota Sukabumi serta Kabupaten Cianjur, belum muncul ke permukaan.

Persoalan pengelolaan sampah salah satunya muncul di TPA Sampah yang berlokasi di Desa Galuga, Kabupaten Bogor. Dalam pengelolaan sampah di TPA Galuga, Kabupaten Bogor bekerjasama dengan Kota Bogor. Kabupaten Bogor sebagai penyedia lahan dan Kota Bogor sebagai operator.

Persoalan pertama, jelas Supriyatno, di TPA Galuga ada unit proses IPAL atau Instalasi Pengolahan Limbah. Waktu ditinjau pada tanggal 5 Januari 2016 lalu, ternyata unit proses IPAL itu tidak difungsikan. Akibatnya, limbah sampah langsung masuk ke pembuangannya tanpa melalui proses terlebih dahulu.

Persoalan kedua, di TPA Galuga memang telah dibangun kolam penampungan lindi, yaitu cairan sampah yang sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan lingkungan. Namun, pembangunannya tidak sesuai dengan yang seharusnya. Semestinya, lokasinya di bawah sehingga lindi dapat mengalir. Tapi kenyataanya, kolam tersebut malah dibangun lebih tinggi mencapai satu setengah meter . Saat ini, kolam tersebut keadaannya mubadzir. (enal/Rsd)

Diberdayakan oleh Blogger.