header_ads

Lebaran.id

Forum Rektor Indonesia For Solusi Kebangsaan

BERITA BOGOR - Rektor Universitas Trilogi; Forum Rektor Indonesia Untuk Solusi Persoalan Kebangsaan

Rektor adalah pimpinan Universitas dan Institut pendidikan yang tentunya kental dengan nuansa akademik. Sehingga Rektor bisa dikatakan The Academic Leader yang saat ini tugasnya juga melebar ke upaya-upaya pembangkitan dana (income generating activities). Artinya peran Rektor semakin penting dan sentral dalam dunia akademik universitas/institut. Termasuklah peran sebuah forum berkumpulnya para Rektor atau yang dikenal dengan Forum Rektor Indonesia (FRI).

“Tidak salah bila masyarakat berharap banyak terhadap peran Rektor yang tergabung ke dalam FRI atau Forum Rektor Indonesia. Apalagi di masa kini dimana arus politik kekuasaan yang bercampur baur dengan dunia usaha semakin kental. FRI harus mampu memberikan pemikiran-pemikiran untuk mencari solusi,” sampai Rektor Universitas Trilogi, Prof. Dr. Asep Saefuddin.

Rektor yang memimpin kampus teknopreneur ini juga menuturkan mengapa dikatakannya demikian. Menurutnya karena Perguruan Tinggi merupakan sebagai sumber mata air ilmu pengetahuan yang tidak akan ada habisnya. Selain karena selalu ada mahasiswa yang belajar, maka di PT itulah seharusnya inovasi berkembang. Pasti akan selalu ada ide untuk melakukan riset. 

“Para akademisi dengan kekuatan intelektualnya harus menjadi rujukan dalam pemikiran-pemikiran ke depan yang berkaitan dengan kenegaraan, sosial, ekonomi, dan politik. Tentunya semua itu harua berbasiskan  riset. Tanpa kekuatan riset, para akademisi akan tumpul, walaupun tugas mengajarnya tetap berjalan. Tetapi kalau sekedar memamah biak dari ilmu-ilmu dari buku teks lama, tanpa informasi terkini dari jurnal dan riset dosen itu sendiri, maka keadaan ini membahayakan kultur inovasi dan riset masyarakat. Jadi, secara internal, Rektor harus mampu menggairahkan budaya riset dosen dan mahasiswa. Tanpa itu, PT tidak berbeda dengan lembaga kursus,” jelas guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) ini. 

Lebih lanjut, doktor jebolan Kanada ini juga memandang secara eksternal Rektor apalagi yang tergabung dalam dalam FRI harus memberikan alternatif konsep pemikiran untuk menjawab permasalahan bangsa. Bahkan memetakan Indonesia jauh ke depan.

“Saat ini, negara sedang dirundung masalah yang cukup kompleks. Misalnya dalam menghadapi MEA yang seharusnya kita menjadi leader, apakah PT sudah siap menawarkan kurikulum yang benar-benar akan menjadi pegangan bagi generasi muda? Apakah budaya entrepreneurship di kampus-kampus sudah tumbuh dengan baik, termasuk penyiapan young entrepreneur, misalnya dengan inkubator bisnis, startup company, dan kegiatan lainnya yang mendukung mahasiswa agar mereka kelak menjadi entrepreneur?,”  ujarnya. 

Terkait dengan dengan persoalan perencanaan pembangunan, pakar statistika Indonesia ini mengatakan sebaiknya FRI harus mampu memberikan konsepsi blue print yang diterima oleh lembaga-lembaga negara dan dijalankan oleh pemerintahan sebagai eksekekutif.  Beliau mencontohkan misalnya bagaimana mengembalikan grand design seperti GBHN 25 tahunan yang dipegang dan dijalankan secara periodik 5 tahunan. Sehingga lembaga politik fokus pada pencapaian Indonesia sejahtera, bukan saling menihilkan akibat terlalu berpikir jangka pendek dan kelompokisme. Di sini FRI bisa menjadi rujukan pemikiran.

“Selain itu, masalah dekadensi moral dan karakter bangsa yang  sangat bermasalah juga harus menjadi sorotan, jangan diabaikan, Jadi FRI harus memberikan alternatif konsep pendidikan mengait dengan karakter, sains-teknologi, entrepreneurship, ekonomi, dan lain-lain secara bertahap. Jangan semuanya dijejali di tingkat dasar yang menyebabkan anak didik lelah, bosan, dan akhirnya di SMP mulai beringas melalui tawuran. Keadaan ini harus mulai distop secara mendasar, bukan sekedar melalui ancaman dan hukumab  saja, tetapi pandangan holistik persoalan kemanusiaan harus ditelaah dan keluar dg solusi jangka panjang. Di sini FRI bisa berperan” harapnya.  (RILIS)

Diberdayakan oleh Blogger.