Header Ads

Penanganan Kasus Hewan Liar Dan Manusia

SIARAN PERS

Carut Marut Penanganan Konflik 
Hewan Liar Dilindungi Dengan Manusia
. 

Konflik Hewan Liar dengan Manusia khususnya Macan Tutul sudah terjadi beberapa tahun terakhir. Tahun 2009 Macan Tutul tertangkap di sekitar Gn.Syawal Ciamis Jawa Barat,Tahun 2013 terjadi hal yang sama di sekitar Gn.Cikuray Dimana macan Tutul tertangkap masyarakat sekitar dan yang terakhir masih hangat terdengar 11 Agustus 2015 seeekor macan Kumbang Ditangkap warga dan warga meminta uang tebusan kepada pihak terkait/BBKSDA Jawa Barat sebesar 100 juta dengan alasan konvensasi dan ganti rugi.Hampir seminggu seekor macan tersebut menjadi tontonan warga Dan akhirnya 18 agustus 2015 macan tersebut berakhir di kandang salah satu taman satwa/Kebun Binatang di daerah Garut. 

Macan merupakan satwa endemik pulau jawa yang dilindungi Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 dan Pasal 21 Ayat (2) huruf a Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.  termasuk dalam Redlist IUCN (Interna-tional Union for Conservation of Nature and Natural Resources) dengan kategori Critically Endangered dan termasuk dalam Appendix I CITES (Convention on International Trade in En-dangered Species of Wild Fauna and Flo-ra. Setelah harimau jawa (Panthera tigris sondaica Temminck, 1844) dinyatakan punah. 

Dari aspek sosial budaya macan tutul Jawa (Panthera pardus melas) memegang peran besar dalam budaya masyarakat Jawa khususnya Jawa Barat. Macan tutul sering di identikan  dengan harimauatau maung (bahasa Sunda), karena masyarakat tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk membedakan kedua spesies ini. Harimau di mata masyarakat Jawa masih sering dianggap sebagai jelmaan dari Prabu Siliwangi.  Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) sendiri telah  dipilih sebagai fauna indentitas Jawa Barat berdasarkan dalam keputusan Gubernur Jawa Barat Nomer 27 Tahun 2005.  

Catatan kawan - kawan Pecinta mamalia dan Kader Konservasi mengatakan di Indonesia sudah ada sekitar 35 kejadian konfik macan dengan manusia terjadi Dimana sekitar 20 kasus terjadi di Jawa Barat.dari banyaknya konfik tersebut hanya 1 yang berhasil dilepasliarkan kembai,beberapa ada yang mati dan yang lebih banyak adalah berakhir di kandang yang menjadi tontonan manusia di lembaga konservasi seperti kebun binatang,taman satwa,taman safari  yang sarat akan kepentingan komersialisasi tetapi minim daa mengedepankan nilai nilai edukasi dan konservasi. 

Selama ini penyelasaian konflik selalu bersifat solusi jangka pendek, tanpa mitigasi konflik yang jelas, dan tanpa penyadartahuaan kepada masyarakat, dari kasus-kasus yang terjadi, penyelesaian konflik selalu sama : Macan Tutul selalu  ditangkap  dan proses penyelamatan pun jarang mengacu terhadap ketetapan prosedur penanganan konflik satwa dan manusia seperti pada permenhut 48 Tahun 2008.  

Menyikapi kejadian ini kami Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia ( FK3I ) Kelompok Pecinta alam.Aktivis Peerhati Mamalia Mendesak Pihak – Pihak terkait seperti  Bupati Ciamis,BBKSDA Jawa Barat,Gubernur Jawa Barat,Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan agar :
  1. Segera melakukan upaya - upaya penyelamatan terhadap macan  baik yang berada di kandang.maupun yang masih berada di habitatnya sesuai dengan peraturan perundangan - undangan yang berlaku 
  2. Bersama-sama mencari Solusi Jangka Panjang dalam mengelola Populasi Macan   Terutama di Gunung Syawal Ciamis,
  3. Melakukan  sosiaisasi dan edukasi terhadap masyarakat terkait konfik Hewan Liar dan Manusia
  4. Meningkatkan kapasitas para petugas lapangan dalam penanganan Konfik Hewan liar dan manusia 
  5. Merencanakan pembuatan tempat pusat rehabiitasi satwa liar khususnya macan agar tidak seau berakhir di Kandang 


Garut,21 Agustus 2015

Perwakilan yang menyatakan sikap : 
Dedi Kurniawan ( FK3I )
Juwita ( FK3I Garut )
Jenal ( Perwakian Kelompok Pecinta Alam )
                                               Agung ( aktifis Pecinta Mamalia )
.



Diberdayakan oleh Blogger.