header_ads

Linguaphone.id

Walhi Desak Tutup Ratusan Tambang Bogor

BERITA BOGOR - Alam tak pernah mengatakan "Ya" pada sebuah teori, setidaknya hanya mengatakan "Mungkin" atau "Tidak". (Albert Einstein, 1905).

Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Barat mendesak kepada Pemerintah Kabupaten Bogor untuk segera menghentikan aktifitas pertambangan di Kawasan Hutan Gunung Kandaga di Kabupaten Bogor, Kamis (10/10/2014) silam. 

Hal ini didasari oleh Wilayah Kabupaten Bogor semakin rusak dengan merebaknya aktivitas pertambangan. Aktivitas pertambangan bukan saja merusak ekositem, makin meluasnya alih fungsi lahan hijau dan kawasan hutan namun telah berdampak pada konflik sosial dan bermasalah dari aspek perizinan.

Pemeriksaan sementara Walhi Jawa Barat ada sekitar 134 perusahaan tambang melakukan eksploitasi tambang baik di kawasan hutan dan non kawasan hutan di Kabupaten Bogor. Sedikitnya ada sekitar 78 Perusahaan yang melakukan eksplotasi pertambangan di Kawasan Hutan wilayah KPH Bogor yang dikelola oleh Perum Perhutani melalui skema kerjasama operasional (KSO) dengan perusahaan swasta, koperasi dan indvidu.

"Adanya KSO Perum Perhutani dalam bentuk kerjasama usaha pertambangan berakibat pada semakin berkurangnya luasan kawasan hutan yang beralihfungsi menjadi pertambangan. Walhi Jawa Barat memperkirakan sekitar sekitar 20.924 ha baik di kawasan hutan maupun non kawasan hutan telah beralihfungsi menjadi lahan tambang akibat praktik KSO Perum Perhutani dengan Pihak Perusahaan. Diperkirakan sekitar 250 Ha kawasan hutan beralih fungsi menjadi lahan tambang di KPH Bogor," kata Direktur Eksekutif Walhi Jawa Barat, Dadan Ramdan, Rabu (11/3/2015). 


Menurutnya, Walhi Jawa Barat secara tegas menolak aktivitas pertambangan di Gunung Kandaga dan meminta segera dihentikan. Sedangkan, di Kawasan hutan Gunung Kandaga di  RPH Cariu Desa Antajaya Kecamatan Tangjung Sari Kabupaten Bogor berdekatan dengan Gunung Sanggabuana semakin terancam oleh praktik pertambangan. Sejak pertengahan 2014, telah terjadi aktivitas pertambangan galian batu andhesit dan mineral lainnya yang dilakukan melalui skema KSO antara Perum Perhutani yang bekerjasama dengan PT Gunung Salak Rekhanusa (GSR) di kawasan hutan dan lahan milik warga di Gunung Kandaga. "Diperkirakan kawasan hutan yang terancam menjadi tembang mencapai 500 Ha dan lahan tambang di lahan milik warga sekitar 7 Ha," ungkapnya. 

Sementara, warga yang tergabung dalam Forum Masyarakat Peduli Alam dan Lingkungan Hidup Tanjung Sari Kabupaten Bogor menolak dan meminta penghentian aktivitas pertambangan, aktivitas pertambangan sudah dimulai sejak awal bulan Agustus 2014, pertambangan yang dilakukan oleh PT Gunung Salak Rekhanusa bermasalah.

Pertambangan itu dinilai telah mengancam hilangnya sumber mata air warga karena berada di zona resapan air dan pertanian, bukan berada pada zona pertambangan dan melanggar tata ruang dan wilayah Kabupaten Bogor, mengancam kehidupan warga yang sebagian hidup dari pertanian, aktivitas pertambangan telah menimbulkan konflik sosial di warga. 

Tak hanya itu, proses perijinan bermasalah, terindikasi adanya suap dan gratifikasi terhadap pemerintah setempat dan tidak memperoleh izin dari masyarakat setempat, ditambah lagi adanya praktik intimidasi kepada warga setempat yang oleh pihak PT Gunung Salak Rekhanusa dan Perum Perhutani serta aparat setempat. (als) Editor: Alsabili

  Forum Masyarakat Peduli Alam Lingkungan Hidup Tanjung Sari desak hentikan aktivitas tambang.

Diberdayakan oleh Blogger.