header_ads

Industri Kertas Ancam Kelestarian Hutan

BERITA BOGOR - Tapak Ekologi Selembar Kertas Dalam Kehidupan Manusia Dewasa Ini Seakan Tak Dapat Dipisahkan Dari Kertas. 

Benda yang disebut Kertas telah merangsek masuk ke berbagai aspek kehidupan. Mulai dari menulis, mencetak, membungkus, dan masih banyak lagi. Dapat dipastikan, manusia sepertinya sangat bergantung pada kertas. Faktanya manusia tidak pernah mau memikirkan jejak lingkungan yang ditinggalkan akibat dari penciptaan dan penggunaan kertas itu sendiri. 

Anggota Forum Komunikasi Kader Konservasi Indonesia-Pusat (FK3I Pusat), Meiki W Paendong, menyikapi berbeda terhadap kertas telah menjadi komoditas industri skala besar dan ektraktif. Kayu-kayu sebagai bahan baku pembuatan Pulp atau lazim disebut bubur kertas berasal dari hutan. "Akibatnya laju deforestasi yang dilakukan olen industri Pulp dan Kertas pun semakin menggila dan melaju kencang. Dampak dari praktik deforestasi berkontribusi pada kebakaran lahan bekas tebangan dan hutan. Apa yang terjadi selanjutnya adalah bencana ekologi berupa kabut asap," katanya, Selasa (10/3/2015).

Tidak hanya sampai disitu, lanjutnya, industri bubur kertas dan kertas masih melanjutkan praktik kotor dengan mencemari sungai dalam proses produksinya. Seperti  salah satunya yang dilakukan PT. IKPP di Kabupaten Serang. Perusahaan tersebut menjadi kontributor paling besar atas tercemarnya Sungai Ciujung. Sejarah panjang perjalanan kertas sejak masih dari bahan baku hingga ke bentuk jadi menorehkan jejak lingkungan yang pedih. Penggunaan kertas secara berlebihan secara tidak langsung turut mempercepat proses runtuhnya tatanan ekosistem hutan alam. 

"Sebagai pengguna, Kita kerap tidak memikirkan hal tersebut. Konsumsi kertas sebagai media untuk menulis, mencetak,ataupun mengemas, masih sangat tinggi. Seiring berkembangnya teknologi, penggunaan kertas sebenarnya dapat dikurangi. Teknologi online atau Internet dengan fasilitas pengiriman surat elektroniknya atau e-mail tentu bisa digunakan sebagai pengganti pengiriman surat cetak. Dengan begitu penggunaan kertas dapat diminimalisir. Namun kebiasaan berkirim  surat elektronik untuk keperluan administrasi masih belum menjadi suatu kebiasaan," ungkapnya.

Selain itu pula, tambah Melki, cara lain yang dapat dilakukan untuk menghemat kertas adalah dengan penggunaan kertas dua sisi. Dalam pengertian bahwa kertas yang telah selesai ditulis atau dicetak, sisi belakangnya yang kosong sebenarnya masih bisa digunakan untuk menulis dan mencetak lagi. Di beberapa lembaga pemerintah dan swasta penggunaan kertas dua sisi sudah menjadi bagian dari SOP mereka. Namun sayangnya praktik tersebut dilakukan masih  atas dasar pengurangan biaya belanja kertas. Bukan dalam kerangka  keadilan ekologi, dimana hutan terus menerus ditelanjangi dan diperkosa.

Dirinya mengungkapkan pada tatanan masyarakat juga kebiasaan menggunakan kertas dua sisi atau bolak-balik belum terlalu terasa penerapannya. Satu hal yang tak kalah penting adalah jangan membuang kertas yang telah selesai fungsinya. Karena akan menjadi beban lingkungan. Biasakan untuk selalu mengumpulkannya,. Selain kertas bekas pakai masih memiliki nilai ekonomi dengan cara dijual kembali atau didaur ulang oleh sendiri. "Sudah saatnya penggunaan kertas dilakukan secara lebih bijak dengan memperhatikan aspek layanan alam. Bukan hanya karena didasari pertimbangan aspek ekonomi saja. Namun yang lebih penting adalah dilandaskan pada pemikiran kelestarian hutan alam  hari ini semakin terancam keberlanjutannya," tutpnya. (als) Editor: Alsabili



Diberdayakan oleh Blogger.