header_ads

Waralaba Gusur Pedagang Kecil

BERITA BOGOR - Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 tahun 2012 belum aspiratif, Waralaba Matikan warung kecil. 

Keberadaan warung ritel, yang kini terus berkembang hingga menyentuh lapisan terdalam pelosok pemukiman warga, menjadi ancaman bagi usaha pedagang kecil. “Semua waralaba diwilayah Cisarua telah menjual sembako dan sayur mayur. Bisanya kita berdagang mulai pagi hingga siang hari sudah mendapatkan penghasilan sebesar Rp100 hingga Rp150 ribu. Sekarang kita hannya mendapatkan Rp.20 ribu,” kata Ahmad (42) pedagang sayur mayur yang diamini beberapa kerabatnya dilokasi, Selasa (24/2/2015). 

Hal senada juga dikatakan, Ratna (34) pedagang telur di pasar tradisional Cisarua yang mengaku, hampir satu bulan ini, usaha yang digelutinya itu sepi pembeli. Pelanggan yang biasanya datang, kini lebih memilih membeli ke warung waralaba.

Terpisah, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Cisarua Tohaga, Firman Nugraha membenarkan, kehadiran waralaba yang tak jauh dari pasar tradisional Cisarua itu, telah dikeluhkan oleh sejumlah pedagang.

Sementara, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Bogor, Muhammad Rizky meminta Dinas Koperasi, UKM, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) dan Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Bogor menutup seluruh minimarket yang tidak memiliki izin secara lengkap. Hal itu dikatakan Rizky menyusul habisnya masa uji coba implementasi Peraturan Daerah (Perda) Nomor 11 Tahun 2012 tentang Penataan Pasar Modern dan Tradisional atau yang dikenal dengan Perda Minimarket, sejak tanggal 7 Desemeber 2014 lalu.

Menurutnya, dengan diberlakukannya Perda Minimarket, Dinas terkait juga harus bisa tegas dan tidak memberikan ruang pengharapan kepada pengusaha minimarket, terutama soal perizinan. Aturan yang tertera dalam perda sudah sangat mengikat, termasuk mengakomodir kearifan lokal dengan menggandeng usaha kecil menengah (UKM) yang ada di sekitarnya. Selama ini keberadaan minimarket di Kabupaten Bogor, bukan saja menjadi ancaman bangkrutnya usaha pedangan kecil dengan modal terbatas, tapi juga secara tidak langsung sudah mengubah kebiasaan warga menjadi konsuntif. (red/ali) Editor: MICHELLE


Diberdayakan oleh Blogger.