header_ads

Linguaphone.id

Dinkes Bantah Lamban Tangani Kasus DBD

BERITA BOGOR - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor diduga lamban memberantas sarang nyamuk Demam berdarah dengue. 

Menyusul jatuhnya korban nyamuk Aedes Aeygepti di Kabupaten Bogor yang menimpa, Doni (5), warga Kampung Panggulaan RT 01/RW 01, Desa Sukaraja, Kecamatan Sukaraja, dinyatakan positif terserang Demam Berdarah Dengue (DBD).  

Keluarga korban, Luluk (35), mengatakan, Doni mengalami demam tinggi yang tak mementu sejak seminggu terakhir. Akibat hal itu, dirinya pun dirujuk Puskesmas setempat ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ciawi.

“Dia dirawat sejak seminggu yang lalu akibat DBD. Kami minta Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bogor untuk proaktif dalam menangani hal ini, kami tak mau ada warga kami yang harus meninggal dunia karena DBD,” papar Luluk saat ditemui PAKAR dilingkungan Kantor Kecamatan Sukaraja, Rabu (28/1/2015).

Desa Sukaraja sendiri sebelumnya sudah dinyatakan sebagai daerah epidemis penyebaran DBD. Bahkan, Kampung Pamulaan sendiri termasuk dalam zona merah wabah DBD setelah di tahun 2014 lalu, ada warga di Kampung tersebut yang meninggal akibat DBD. “Untuk pencegahan sementara paling tidak dinas berupaya melakukan fogging, supaya penyebaran nyamuk yang mengerikan itu berkurang, jangan menunggu korban jiwa, seperti tahun lalu, tapi kenyataan hal itu tidak dilakukan oleh Dinkes,” tandas Luluk kecewa.

Sementara itu, Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor, Egi Gunadi Wibhawa, berjanji akan segera berkomunikasi dan mendesak Dinkes Kabupaten Bogor untuk segera menseriusi permasalahan ini, jangan sampai ada pembiaran hingga korban yang tekena DBD bertambah.

Tak hanya itu, lanjutnya, untuk mencegah penyebaran wabah DBD agar tak meluas, Egi juga meminta Pemkab Bogor untuk lebih meningkatkan komunikasi antara Puskesmas dengan jajaran Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) sehingga korban DBD di wilayah bisa segera tertangani dengan baik.

“Komunikasi antar lembaga pemerintahan, mulai dari Muspika Desa, Kecamatan harus ditinggkatkan sebagai upaya tindakan cepat bagi warga yang positif DBD. Bukan saja untuk mengobati tapi juga mencegah penyebaran virus,” ungkapnya.

Untuk diketahui, Kabupaten Bogor sendiri memang dinyatakan sebagai wilayah endemis DBD dengan penyebaran wabah dengan sepuluh Kecamatan, diantaranya, Citeureup, Bojong Gede, Cileungsi, Cibinong, Gunung Putri, Ciampea, Ciomas, Kemang, Leuwiliang dan Sukaraja.

Di awal tahun 2015 ini, sedikitnya sudah enam belas warga Kabupaten Bogor terserang DBD. Penelusuran lapangan, rentetan kejadian penyebaran wabah DBD di Kabupaten Bogor diawali dari delapan warga Kampung Pasanggrahan, Desa Citeko, Kecamatan Cisarua pada medio Januari 2015 lalu.

Selang beberapa waktu kemudian, enam warga Desa Tamansari, Kecamatan Rumpin, termasuk seorang balita berusia enam bulan juga divonis positif DBD. Bak penyakit menular, penyakit yang ditandai dengan demam tinggi tak menentu itu kini juga warga Gunung Sindur, Parung dan Kemang.

Namun ironisnya, hingga saat ini, belum ada tindakan nyata yang dilakukan Dinkes Kabupaten Bogor. Padahal, sejumlah pejabat teras di Bumi Tegar Beriman sudah mengeluarkan desakan, termasuk diantaranya Sekda Kabupaten Bogor, Adang Suptandar dan sejumlah anggota legislatif yang bercokol di Komisi IV DPRD.

Menanggapi pemberitaan tentang Dinkes di duga melakukan perencanaan pembunuhan lewat DBD itu hanya sepihak tanpa melihat data-data dan bukti yang akurat, oleh karena itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor mengklarifikasi berita yang meresahkan rakyat Kabupaten Bogor dengan menyampaikan lewat media TV Teman Kabupaten Bogor.

Menurutnya, dalam pertemuan koordinas kepala UPT Puskesmas dalam rangka antisipasi peningkatan kasus DBD di Kab.Bogor yang bertujuan agar seluruh kepala UPT Puskesmas untuk berkoordinasi dengan lintas sektor supaya melakukan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) secara serempak di seluruh kelurahan dan desa serta lebih di intensifkan di daerah-daerah endemis DBD.

Rencana pendekatan pelayanan kepada masyarakat bahwa pelaksanaan fogging akan dilakukan oleh puskesmas UPT secara bertahap yaitu di UPT Cibinong, citereup, ciawi, ciomas, gn.putri, cileungsi dan parung, dan tetap dibawah koordinasi serta pengendalian Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor  (red/pakar) 

Diberdayakan oleh Blogger.