Ads

Wacana Terminal Terpadu Ciawi

Menata Pangkalan Liar Menjadi Terminal Terpadu ?  

BERITA BOGOR | www.beritabogor.com - Banyaknya kendaraan umum dalam kota maupun luar kota di wilayah kabupaten dan Kota Bogor sudah saatnya diatur. Hal itu guna menanggulangi penumpukan kendaraan dan mengurangi kemacetan kedepan.

Terminal terpadu bisa menjadi salah satu solusinya. Terminal terpadu adalah sebuah terminal utama diluar Kota dan Kabupaten Bogor. Salah satu tempat yang layak adalah Terminal Terpadu  Ciawi.

Selama ini Ciawi menjadi  pangkalan liar  atau bayangan dari  angkot dan bis luar kota.  Dari Ciawi  penumpang melanjutkan tujuan dengan kendaraan lain sesuai tujuan mereka.  Kendaraan umun kecil dari luar daerah yang melintas di Ciawi adalah trayek dari Cianjur dan Sukabumi. 

Sementara Transportasi besar dari luar adalah bis - bis dari Bandung, Tasik, Garut, Sukabumi, Cianjur, Tangerang , Bekasi dan Jakarta. Untuk transportasi umum angkot lokal yang melintas dari Cisarua, Pasir Muncang, Cibedug, Caringin, Baranangsiang dan lain - lain. 

Saat ini untuk Wilayah Kabupaten Bogor belum memiliki Terminal di lingkar luar kota, sementara untuk Kota Bogor masih mengandalkan terminal tua Baranangsiang.  Dengan konsep Terminal Terpadu dua wilayah dan melibatkan Propinsi, maka  jalur transportasi dan armadanya bisa di atur di sini. 

Diumpamakan, jalan Raya Tajur. Satu ruas jalan ini dilewati berbagai angkot dari jurusan yang berbeda- beda. Ada Angkot Sukabumi Bogor, Cianjur Bogor, Cisarua-Sukasari, Cibedug-Sukasar, Ciawi Baranangsiang dan beberapa Bis jurusan lain.

Hal tersebut membuat kepadatan jalan Raya Tajur tak bisa di hindari. Sehingga  kenyamanan berkendara sangat sulit didapatkan. Jalan Raya Tajur semestinya cukup dilalui oleh Transportasi umum tunggal, lurus hingga Cibinong, membelah kota Bogor dan Cibinong. Angkot Angkot cukup menjadi feeder diluar kota. Semua trasnportasi Umum bermuara di Ciawi. 

Dengan kemajuan teknologi terminal bisa di buat bertingkat. Angkot lokal cukup dibuatkan jalan berputar dan tidak harus parkir berlama-lama. Sementara kendaraan yang hanya melintas dibuatkan jalur khusus. Bisa jadi dengan kepadatan jalur transportasi terminal dibuat 5 lantai. Sebagai sarana penunjang dan memenuhi kebutuhan Penumpang lantai paling atas bisa dijadikan pusat belanja aneka kebutuhan.

Lahan yang memanjang dari batas tol hingga perempatan Ciawi hampir mencapai 500 m. Sementara lebarnya rata-rata 100-150 meter. Dengan konsep terminal bertingkat dengan pengaturan jalur yang tepat mestinya cukup untuk dijadikan konsep Terminal Terpadu.

Dengan adanya konsep ini, maka kita tidak akan lagi melihat angkot, bis dan truk yang parkir seenaknya di pinggir jalan. Begitu pula dengan penumpukan transportasi umum di satu jalan juga akan bisa dikurangi dan diatur ulang.

Pembiayaan konsep ini bisa melibatkan berbagai sumber: 
1. Pemkab Bogor, 
2. Pemkot Bogor, 
3. Pemprop Jawa Barat, 
4. CSR Perusahaan dari Iklan, 
5. Saham Masyarakat. 

Sumber pendanaan tersebut tentu tidak ada alasan tidak adanya anggaran. Yang dibutuhkan hanya niat, kemauan, komunikasi dan menyamakan persepsi. Karena konsep di titik ini hampir tidak ada biaya pembebasan lahan. Berbeda jika direncanakan di tempat lain yang masih memerlukan pembebasan lahan.

Dengan adanya Terminal Terpadu tersebut maka era pengaturan kembali transportasi umum di Bogor Raya bisa dilakukan. Mengenai design detailnya bisa melibatkan arsitek - arsitek yang banyak di Bogor. (*)

Penulis Naskah: Sunyoto *
Diberdayakan oleh Blogger.