Ads

Sikap Arogan Oknum Anggota Dewan Sukabumi Menuai Kritik

Sidak Restoran dinodai sikap arogan Anggota Dewan Sukabumi, kemarin 

BERITA BOGOR | www.beritabogor.com -  "Bangunan ini bukan milik saya, tapi saudara saya bernama Asep. Ga ada urusan dengan saya, bila perlu saya belah kepala anda". 

Kalimat tersebut diatas dilontarkan oleh oknum Anggota DPRD Sukabumi kepada wartawan saat inspeksi mendadak Komisi III DPRD Kabupaten Bogor dilokasi Restoran Umi Tambakan di Jalan Raya Sukabumi, Desa Wates Jaya, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor, Selasa (13/06/2017). 

Kalimat yang terdengar ancaman itu membuat sejumlah awak media yang hadir kaget dan tidak bisa menerimanya. Bahkan setelah dimuat berita kejadian itu sempat menuai kritik dari berbagai kalangan.

Praktisi Hukum, Edison SH mengatakan, dari sisi etika pernyataan Ketua DPRD Sukabumi yang dinilai tidak bisa mengendalikan emosional patut disesalkan apalagi ada bahasa ancaman. Dari koridor hukum, kata dia lagi, bilamana awak media merasa terancam keselamatannya atas ucapan tersebut bisa menempuh jalur hukum alias melapor ke aparat kepolisian atas dugaan ancaman dan perbuatan tidak menyenangkan serta junto UU Pers Nomor 40 tahun 1999.

"Bagaimana bisa seorang wakil rakyat berbuat seperti itu? Kalau memang tidak merasa sebagai pemilik restoran Umi Tambakan, kan bisa menempuh cara lain tidak harus mengancam awak media," kata dia saat dihubungi via selulernya.

Ia juga menambahkan, karena telah masuk dalam ranah etika, sudah sepantasnya Badan Kehormatan Dewan (BKD) mengambil sikap atau tindakan terhadap yang bersangkutan. Disisi lain, meskipun dalam pengakuannya pemilik Umi Tambakan adalah keluarganya namun kehadiran Agus Mulyadi yang notabenenya merupakan anggota dewan jelas menimbulkan kecurigaan publik.

"Ada cara lebih beretika daripada mengancam akan membunuh wartawan yang menulis pemberitaan dirinya, misalnya dengan melayangkan surat keberatan kepada redaksi media yang telah memuat pemberitaan," imbuhnya.

Sementara, Ketua PWI Kota Bogor, H Tarwono mengatakan, sesuai Undang-Undang Pers jika narasumber merasa tidak puas ataupun keberatan dengan isi pemberitaan maka bisa melayangkan surat keberatan tentang bagian mana dalam sebuah berita yang dianggap tidak sesuai, dan redaksi media massa wajib memuat berita klarifikasi sebagai hak jawab, tanpa harus melakukan hal-hal yang tidak sepatutnya dilakukan.

"Awak media yang melakukan peliputan itu dilindungi UU. Kalau memang keberatan, bisa melayangkan surat keberatan ke redaksi media yang memuat pemberitaan. Jika sudah ada ancaman apalagi pemukulan, sebaiknya lapor ke pihak kepolisian," ungkapnya.

Tak hanya itu, puluhan Wartawan yang bertugas di wilayah Bogor Selatan melaporkan sikap arogan oknum Anggota DPRD Sukabumi ke pihak Kepolisian. "Ancaman yang dilontarkannya kepada wartawan kita laporkan ke Polisi," ujar Asep Supriyadi, Wartawan. 

Sebelumnya diberitakan, meskipun telah diberikan penjelasan bahwa yang memberikan keterangan pemilik restoran Umi Tambakan yakni Agus Mulyadi adalah pihak Kecamatan Cigombong yang diwakili Kasie Trantibnya saat awak media mengkonfirmasi perihal kepemilikan bangunan yang disegel Satpol PP itu, namun dirinya tetap tidak menerima dan mengancam beberapa awak media.  (rif/als)
Diberdayakan oleh Blogger.