Ads

Proyek TLB Resort Ciawi Disoal

Proyek The Leaft Beatique (TLB) Resort Ciawi Disoal 

BERITA BOGOR | www.beritabogor.com - Aktivitas pemerataan tanah proyek The Leaft Beatique Resort di Desa Banjarwaru, Kecamatan Ciawi, Kabupaten Bogor, disoal warga setempat. Pasalnya, aktivitas pemerataan tanah untuk hunian elite yang berlokasi di Jalan Veteran II diduga telah merusak ekosistem dan fungsi saluran air (Irigasi -Red).

"Tebingan yang awalnya berfungsi untuk saluran air saat ini diratakan untuk jalan masuk, apa memang diperbolehkan hal tersebut? Kalau soal perusakan ekosistem, itu urusan dinas terkait melalui hasil kajiannya," ungkap salah seorang warga berinisial ES (43), Kamis (01/06/2017).

Pada dasarnya, kata dia, warga sangat antusias dengan adanya investor yang berinvestasi dengan membangun hunian elita di wilayahnya karena bisa meningkatkan perekonomian serta diharapkan bisa mengurangi jumlah tingkat pengangguran yang ada. 

Meski begitu, tambahnya, proses pembangunan jangan merusak lingkungan maupun fungsi saluran air. "Pembukaan akses masuk jelas merusak saluran air. Hal ini yang di keluhkan, dimana peran pengawasan dari pemerintah?" imbuhnya. 

Sementara, Pemerhati Lingkungan dan Sosial sekaligus tokoh masyarakat Kecamatan Ciawi, Adi Prabowo berpendapat, keluhan warga atas aktivitas pemerataan tanah proyek The Leaft Beatique Resort merupakan salah satu bentuk peran serta masyrakat dalam perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup sebagaimana diatur dalam UU Nomor 32 tahun 2009 pasal 70 ayat 1, 2 dan 3. 

Untuk itu, Adi meminta Pemerintah Kabupaten Bogor melalui dinas terkait segera bertindak. "Pembangunan yang dianggap merusak lingkungan harus ditolak. Dinas terkait wajib menelusuri legalitas yang dimiliki, juga mengkaji dampak lingkungan akibat aktivitas pemerataan tanah serta soal saluran air (irigasi)," kata dia.

Terpisah, Kepala Dinas Kebersihan dan Lingkungan Hidup Kabupaten Bogor, Panji mengaku, pihaknya akan segera melakukan pengecekan dilapangan atas aktivitas pemerataan tanah yang diduga sudah merusak ekosistem untuk mengetahui sejauh mana tingkat kerusakan lingkungan yang terjadi. 

"Nanti akan kami cek ke lokasi pengerjaan, kalau soal saluran air (irigasi,red) yang dijadikan jalan untuk akses masuk itu menjadi urusan Dinas PUPR dalam pengawasannya," singkatnya. (rif)


Diberdayakan oleh Blogger.