Ads

Perekaman KTP Elektronik Akan Dioptimalkan

Jabar Butuh 3,6 Juta Keping Blanko KTP-elektronik

BERITA BOGOR | beritabogor.com - Untuk memenuhi kebutuhan negara akan data kependudukan yang lengkap dan akurat Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Provinsi Jawa Barat berupaya secara optimal untuk melakukan pendataan salah satunya melalui perekaman KTP elektronik (KTP el).

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (Aher) meminta agar data kependudukan dibuat secara lengkap dan akurat yang dapat mengayomi seluruh warga Jabar. "Adapun kebutuhan blanko KTP-el di Jabar saat ini sebanyak 3.618.202 keping," ungkapnya pada Rakor Administrasi Kependudukan di Kantor Disdukcapil Jabar jalan Ciumbuleuit No 2 Bandung, Rabu (01/03/2017).

Kepala Disdukcapil Provinsi Jawa Barat Abas Basari mengatakan, saat ini Kebutuhan blanko KTP elektronik untuk memenuhi jumlah kebutuhan KTP bagi wajib KTP di Jawa Barat adalah sebanyak 3.618.202 keping. Dari 43.740.159 jiwa penduduk Jabar per 31 Desember 2016 berdasarkan Data Konsolidasi Bersih (DKB), sebanyak 30.829.210 jiwa sudah melakukan perekaman KTP-el terhitung hingga bulan Februari 2017 ini.

"Dengan rincian, 28.161.829 orang sudah memiliki KTP-el. Penduduk yang datanya sudah tunggal namun belum dicetak KTP-el nya sebanyak 1.431.490 orang. Penduduk yang datanya tidak tunggal dan sebagian gagal rekam sebanyak 427.834 orang. Penduduk yang datanya masih dalam proses penunggalan sebanyak 808.057 orang dan penduduk yang masih belum melakukan perekaman sebanyak 1.378.655 orang," jelasnya.

Berdasarkan Data Konsolidasi Bersih (DKB) Abas menjelaskan bahwa agregat Data Penduduk Pemilih Potensial Pemilu (DP4) untuk Pilkada serentak tahun 2018 di 16 Kabupaten/ Kota dan satu Provinsi ada sebanyak 31.766.665 pemilih. Terdiri dari 16.083.822 pemilih pria dan 15.682.843 pemilih wanita. "Untuk estimasi pemilih pemula sebanyak 61.127 pemilih, diantaranya 31.098 pria dan 30.029 wanita," jelas Abas.

Menurutnya, warga yang belum melakukanan perekaman KTP-el paling banyak terjadi di wilayah Jabar bagian barat yang notabene merupakan daerah industri. "Yang paling banyak itu justru di daerah perkotaan seperti Jabotabek karena mereka banyak pendatang dan bekerja di pabrik-pabrik sehingga malas untuk mengurus administrasi," ungkapnya. (red)
Diberdayakan oleh Blogger.