Ads

Melatih Paralimpian Pemanah Perlu Berbesar Hati

Melatih Paralimpian Pemanah, Melatih Kebesaran Hati 

BERITA BOGOR - beritabogor.com o Jika kita masih memandang sebelah mata difabel, maka setop sekarang juga! Mari telusuri bagaimana pelatih paralimpian panahan Yogyakarta mendidik anak asuhnya dengan perlakuan setara. Sriyono, pelatih panahan kontinen Yogyakarta mengatakan, peralatan yang digunakan sama dengan atlet reguler. Alat panah menggunakan merek Recurve atau Compoud yang satu set-nya hampir Rp50 juta. Sedangkan merek biasa kisaran Rp10 juta.  

"Harus sama (perlakuannya, red). Kan bentuk panahannya sama saja, pertandingannya juga sama persis.  Yang dikirim ke Peparnas juga hasil seleksi ketat dulu. Mungkin kursi roda yang digunakan harus senyaman mungkin, sama seperti tenis lapangan kursi roda," katanya saat ditemui di Gor Pajajaran, Kota Bandung, baru-baru ini.

Menurut dia, prinsip kesetaraan seperti berlatih intensif enam hari dalam sepekan juga harus ditegaskan karena bagaimanapun jam terbang paralimpian pemanah kurang. Pelatda pemanah ini sendiri baru dilakukan sejak Januari lalu atau belum genap setahun.

Sriyono mengatakan, paralimpian itu hatinya baik sekali. Juga tegar karena banyak dari atletnya yang sebenarnya hidup normal awalnya namun kemudian musibah merundungnya.  "Ada paralimpian yang kecelakaan karena gempa hebat di Jogja beberapa tahun lalu. Dia jadi relawan, tetapi kemudian terkena musibah. Ada yang karena kecelakaan kerja di pabrik," katanya.

Oleh karenanya, dia berharap, dengan seluruh proses yang tiada bedanya dengan olimpian, semua pihak harus memberi sokongan setara. Termasuk urusan bonus, jangan ada lagi perbedaan njomplang antara olimpian dengan paralimpian.

Apalagi Menpora Imam Nahrawi pun memberi bonus peraih perunggu Paralympic Rio 2016, Nengah Widiasih, sama dengan peraih perunggu Olimpiade Rio 2016 sebesar Rp1 miliar dan uang hari tua Rp10 juta/bulan. (rilis)
Diberdayakan oleh Blogger.