Gelar Simulasi Pencegahan KDRT

MEGAMENDUNG - Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) biasaya dilakukan di dalam rumah tangga. 


Sebagian besar korban KDRT adalah kaum perempuan (istri) dan pelakunya adalah suami, walaupun ada juga korban justru sebaliknya, atau orang-orang yang tersubordinasi di dalam rumah tangga itu. 

Bidang Pemberdayaan Perempuan BPPKB Kabupaten Bogor menggelar kegiatan Simulasi Pencegahan Kekerasan Dalam Rumah Tangga, di Hotel Purnama Cipayung Puncak Bogor, Selasa dan Rabu (23-24/4/2013)

Dalam simulasi ini menghadirkan narasumber dari Kemeterian Perempuan, Universitas Padjajaran, BPPKB Kabupaten Bogor, dan Polres Bogor yang diikuti puluhan anggota TP PKK Kecamatan dan sejumlah perwakilan desa dari kecamatan Babakan Madang dan Leuwisadeng.  

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan BPPKB Kabupaten Bogor, Dra. Shinta Damayanti, MM mengatakan kegiatan ini merupakan agenda rutin setiap tahun yang bertujuan memberikan pemahaman terhadap penanggulangan KDRT.

"Kami berharap peserta dapat menyampaikan wawasan yang diperoleh dari kegiatan ini kepada masyarakat di tingkat kecamatan hingga pedesaan," harap dia.

Bentuk-Bentuk KDRT, lanjut Shinta, meliputi Kekerasan Fisik, Kekerasan Psikis, Kekerasan Seksual, dan Kekerasan Ekonomi.

Informasi yang diperoleh, pelaku atau korban KDRT adalah orang yang mempunyai hubungan darah, perkawinan, persusuan, pengasuhan, perwalian dengan suami, dan anak bahkan pembatu rumah tangga, tinggal di rumah ini. 

KDRT dikategorikan dalam bentuk kekerasan Fisik Berat berupa penganiayaan berat seperti menendang, memukul, menyundut, melakukan percobaan pembunuhan atau pembunuhan dan semua perbuatan lain yang dapat mengakibatkan cidera berat, tidak mampu menjalankan tugas sehari-hari, pingsan, luka berat pada tubuh korban dan atau luka yang sulit disembuhkan atau yang menimbulkan bahaya mati, kehilangan salah satu panca indera.

Tak hanya itu, kekerasan bisa dibuktikan dengan adanya cacat, menderita sakit lumpuh, terganggunya daya pikir selama 4 minggu lebih, gugurnya atau matinya kandungan seorang perempuan, bahkan hingga kematian korban menjai dasar kekerasan fisik berat.

Sedangkan kekerasan Fisik Ringan, berupa menampar, menjambak, mendorong, dan perbuatan lainnya yang mengakibatkan, cidera ringan, rasa sakit dan luka fisik yang tidak masuk dalam kategori berat maupun melakukan repitisi kekerasan fisik ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan berat.

Mengenai Kekerasan Psikis, bisa di kategorikan Kekerasan Psikis Berat berupa tindakan pengendalian, manipulasi, eksploitasi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan, dalam bentuk pelarangan, pemaksaan dan isolasi sosial, tindakan dan atau ucapan yang merendahkan atau menghina, penguntitan, kekerasan dan atau ancaman kekerasan fisik, seksual dan ekonomis.


Penderita psikis berat biasanya menimbulkan gangguan tidur atau gangguan makan atau ketergantungan obat atau disfungsi seksual yang salah satu atau kesemuanya berat dan atau menahun, gangguan stres pasca trauma, gangguan fungsi tubuh berat (seperti tiba-tiba lumpuh atau buta tanpa indikasi medis), epresi berat atau destruksi diri, gangguan jiwa dalam bentuk hilangnya kontak dengan realitas seperti skizofrenia dan atau bentuk psikotik lainnya

Kekerasan Psikis Ringan juga merupakan faktor pelanggaran, berupa tindakan pengendalian, manipulasi, eksploitasi, kesewenangan, perendahan dan penghinaan, dalam bentuk pelarangan, pemaksaan, dan isolasi sosial, tindakan dan atau ucapan yang merendahkan atau menghina, penguntitan, ancaman kekerasan fisik, seksual dan ekonomis, yang masing-masingnya bisa mengakibatkan penderitaan psikis ringan.


Korban biasanya ketakutan dan perasaan terteror, rasa tidak berdaya, hilangnya rasa percaya diri, hilangnya kemampuan untuk bertindak, gangguan tidur atau gangguan makan atau disfungsi seksual, gangguan fungsi tubuh ringan, sakit kepala, gangguan pencernaan tanpa indikasi medis, fobia atau depresi temporer.

Dalam KDRT juga membidik kekerasan seksual, yakni pelecehan seksual dengan kontak fisik, seperti meraba, menyentuh organ seksual, mencium secara paksa, merangkul serta perbuatan lain yang menimbulkan rasa muak, terteror, terhina dan merasa dikendalikan.

Pemaksaan hubungan seksual, lanjutnya, tanpa persetujuan korban atau pada saat korban tidak menghendaki, pemaksaan hubungan seksual dengan cara tidak disukai, merendahkan dan atau menyakitkan, pemaksaan hubungan seksual dengan orang lain untuk tujuan pelacuran dan atau tujuan tertentu, terjadinya hubungan seksual dimana pelaku memanfaatkan posisi ketergantungan korban yang seharusnya dilindungi, tindakan seksual dengan kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit, atau cedera.

Sementara Kekerasan Seksual Ringan, berupa pelecehan seksual secara verbal seperti komentar verbal, gurauan porno, siulan, ejekan dan julukan dan atau secara non verbal, seperti ekspresi wajah, gerakan tubuh atau pun perbuatan lainnya yang meminta perhatian seksual yang tidak dikehendaki korban bersifat melecehkan dan atau menghina korban.


Termasuk Kekerasan Ekonomi, dapat dikategorikan dalam Kekerasan Ekonomi Berat itu berupa tindakan eksploitasi, manipulasi dan pengendalian lewat sarana ekonomi, memaksa korban bekerja dengan cara eksploitatif termasuk pelacuran, melarang korban bekerja tetapi menelantarkannya, mengambil tanpa sepengetahuan dan tanpa persetujuan korban, merampas dan atau memanipulasi harta benda korban.

Kekerasan Ekonomi Ringan, berupa melakukan upaya-upaya sengaja yang menjadikan korban tergantung atau tidak berdaya secara ekonomi atau tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya. 
(alsabili)




JADILAH ORANG PERTAMA YANG MENGOMENTARI :



Dikirim oleh Al Sabili pada 19.22. dan Dikategorikan pada , . Kamu dapat meninggalkan komentar atau pesan terkait berita / artikel diatas
Kang Lintas
Kang Lintas Kang Lintas Kang Lintas

2010 Berita Bogor. All Rights Reserved. - Designed by Berita Bogor