Pertahankan Budaya

Wakil Bupati Karyawan Faturachman (Karfat) meminta warga Desa Malasari menjaga kebudayaan yang diwariskan turun menurun. Pasalnya desa ini merupakan pusat peradaban Kabupaten Bogor, desa ini juga menjadi saksi bagaimana cikal bakal pemerintahan kabupaten Bogor pada awal kemerdekaan. Ungkapan tersebut terlontar saat Wabup lakukan giat Jumat Keliling (Jumling) di Masjid Nurul Fallah Desa Malasari Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor (23/9).

“Mari kita pelihara budaya yang ada agar anak cucu kita nantinya memiliki sejarah bangsa. Nanggung adalah pusat peradaban kabupaten Bogor, di sini banyak hal yang penuh dengan nilai-nilai kebudayaan ini harus dipelihara karena menjadi symbol kedaulatan Negara”, ungkap Karfat.

Karfat juga meminta agar kekayaan alam yang ada jangan dieksploitasi dan dihabiskan apalagi sampai dijual kepada perusahaan tertentu. Kekayaan yang ada harus kita wariskan kepada anak cucu bangsa, terlebih warisan budaya karena dengan itulah bangsa ini bisa bangkit.

“Ketika ada turis yang mendatangi desa ini, mereka bisa menemukan hal-hal yang patut dihargai dan pulang dengan wawasan mengenai sejarah yang ada. Desa ini memiliki Situs bersejarah seperti Rumah Sejarah, kawasan Halimun Salak sebagai cagar alam dan ada upacara panen yang ditandai dengan lomba dong dang olehkarenanya kita harus kelola dengan baik”, ujar Wabup.

Kepala Desa Malasari Sukendar mengatakan, ada ciri khas masyarakat desa Malasari yang sampai saat ini masih terjaga yakni karakter gotong royong. Warganya kerap menjaga sifat ini untuk membangun desa kearah yang lebih baik.

“Sifat gotong royong ini sudah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, pada saat Negara ini merdeka masyarakat secara gotong royong membantu para pejuang. Salah satunya ketika desa ini menjadi pusat pemerintahan Bogor yang dipimpin bupati pertama Ipik Gandamanah warga sering membantu kegiatan pemerintahan hingga membantu para pejuang memberi makan sehari-hari”, tutur Sukendar.

Jumling disambut antusias warga setempat, nampak masjid Nurul Fallah dipenuhi warga yang ingin bertemu langsung dan berdialog dengan pemimpinnya. Sesekali mereka melempar tawa saat Wabup memberikan humoran khasnya. Tak hanya berdialog dengan masyarakat setempat, Karfat pun menitipkan bantuan dari pemerintah daerah berupa dana sebesar 25 juta kepada pengurus masjid.

Kunjungan Wakil Bupati

Pusat peradaban Kabupaten Bogor, stigma itu sangat pantas diberikan pada Desa Malasari yang terletak di lembah perbukitan kaki gunung Halimun Salak Kecamatan Nanggung Kabupaten Bogor. Pasalnya di desa inilah cikal bakal pemerintahan Kabupaten Bogor yang pada saat itu Belanda masih menduduki tanah air.

Awalnya pemerintahan kabupaten Bogor berada di Kecamatan Jasing, namun karena agresi militer Belanda saat itu tidak memungkinkan untuk tetap berada di sana. Akhirnya pada tahun 1947 mengungsi ke desa Malasari dan menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Bogor.

Secara geografis, letak desa ini berada jauh dari pusat keramaian. Berada di lembah perbukitan kaki Gunung Halimun Salak dengan jarak tempuh normal kurang lebih tiga jam dari Cibinong, hal ini menjadikan alasan untuk menghidari rongrongan Belanda pada saat itu.

Tak dari Masjid Nurul Fallah Desa Malasari, terdapat Rumah Sejarah yang pada saat itu digunakan sebagai kantor pemerintahan kabupaten Bogor. Rumah yang masih berdiri kokoh itu menyimpan sejuta warisan sejarah bangsa. Saat ini Rumah Sejarah tersebut dijadikan cagar budaya oleh masyarakat setempat.

Pengetahuan sejarah cikal bakal pemerintahan kabupaten Bogor menjadi daya tarik para pelancong untuk mengetahui sejarah yang ada di Desa Malasari. Tak terkecuali Wakil Bupati Bogor Karyawan Faturachman, kendati dirinya tak hanya sekali mengunjungi Desa Malasari. Namun baru kali ini ia datang dalam acara yang resmi.

“Ini merupakan bentuk pemeliharaan budaya bangsa, agar anak cucu kita nantinya memiliki sejarah bangsa. Nanggung adalah pusat peradaban kabupaten Bogor, di sini banyak hal yang penuh dengan nilai-nilai kebudayaan ini harus dipelihara karena menjadi symbol kedaulatan Negara”, ungkap Wabup

Pemerintahan saat itu dipimpin seorang Bupati Ipik Gandamana yang secara langsung menjadi Bupati pertama Kabupaten Bogor. Pada tahun 1946 Ipik Gandamana diangkat menjadi Patih Bogor. Saat itu Wilayah Bogor dalam kondisi yang mencekam dan menegangkan, karena tentara Belanda telah menyebar di Bogor termasuk mata-matanya dan menyebarkan politik adu domba (de vide impera).

Beberapa kali Ipik Gandamana dibujuk untuk bergabung dengan Belanda, dengan berbagai macam cara termasuk iming-iming jabatan menjadi patih Bogor di lingkungan pemerintahan Belanda Recomba, namun beliau tetap menolak dan membela Pemerintah Republik Indonesia.

Saat dalam pengasingan, Ipik Gandamana menerima tugas dari Pemerintah RI untuk menyusun pemerintahan Kabupaten Bogor darurat,dan beliau ditetapkan menjadi Bupati Bogor, kemudian diangkat lagi oleh wakil Gubernur Jawa Barat untuk merangkap menjadi Bupati Lebak.

Menurut Kepala Desa (Kades) Malasari Sukendar Hal yang sangat menarik dari sosok Bupati Pertama ini, beliau dangan menyukai tutut (semacam keong yang hidup disawah) atau lebih dikenal dengan “Daging Pangenyot”adalah merupakan pelengkap lauk pauk di lokasi pengsingannya.

“Sosok inilah yang patut ditiru dan diteladani bagi generasi selanjutnya dilingkungan Pemerintah Kabupaten Bogor. Pamrihnya hanya satu berjuang dan mengbdi bagi kepentingan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta selalu mengharapkan ridho Allah SWT”, terang Sukendar.

Tak hanya memiliki situs sejarah, desa ini memliki tradisi khas yakni perayaan upacara Seren Tahun. Seren Taun adalah upacara adat panen padi masyarakat Sunda yang dilakukan tiap tahun. Upacara ini berlangsung khidmat dan semarak di berbagai desa adat Sunda, Upacara adat sebagai syukuran masyarakat agraris ini diramaikan ribuan masyarakat sekitarnya, bahkan dari beberapa daerah di Jawa Barat dan mancanegara.

Sukendar mengungkapkan, kegiatan dalam upacara tersebut bermacam-macam. Salah satunya arak-arakan puluhan dongdang (hasil bumi) dari tiap daerah di wilayah Malasari. Selain itu, digelar pula festival tarian dan pertunjukan yang merupakan ciri khas desa tersebut.

“Seren Tahun sudah turun temurun dilakukan sesepuh dan masyarakat di Desa Malasari. Namun, hanya masyarakat desa yang mengetahui dan belum terekspos keluar. Padahal, banyak hal yang bisa ditunjukkan melalui ritual yang sudah berlangsung sejak 175 tahun silam”, jelas Kades.

Menanggapi kayanya potensi budaya di Desa Malasari Wabup meminta agar kekayaan alam yang ada jangan dieksploitasi dan dihabiskan apalagi sampai dijual kepada perusahaan tertentu. Kekayaan yang ada harus kita wariskan kepada anak cucu bangsa, terlebih warisan budaya karena dengan itulah bangsa ini bisa bangkit.

“Desa ini memiliki Situs bersejarah seperti Rumah Sejarah, kawasan Halimun Salak sebagai cagar alam dan ada upacara panen yang ditandai dengan lomba dong dang oleh karenanya kita harus kelola dengan baik”, ujar Wabup. (dheni/buchori)

JADILAH ORANG PERTAMA YANG MENGOMENTARI :



Dikirim oleh Al Sabili pada 14.10. dan Dikategorikan pada , . Kamu dapat meninggalkan komentar atau pesan terkait berita / artikel diatas
Kang Lintas
Kang Lintas Kang Lintas Kang Lintas

2010 Berita Bogor. All Rights Reserved. - Designed by Berita Bogor