Taman Tumbuhan Obat Keluarga

Berdasarkan hasil penelitian etnobotani oleh para peneliti Indonesia, setidaknya terdapat 78 spesies atau jenis tumbuhan obat yang digunakan 34 etnis di Indonesia untuk mengobati penyakit malaria.

Sekitar 30 etnis memakai 133 jenis untuk mengobati penyakit demam, 110 jenis untuk mengobati penyakit gangguan pencernaan dan 98 jenis digunakan untuk mengobati penyakit (Sangat, Zuhud, dan Damayanti, 2000).

Banyak pengetahuan tradisional penggunaan tumbuhan obat dari berbagai etnis tersebut telah dikembangkan pengusaha industri jamu dan farmasi menjadi produk jamu atau produk fitofarmaka yang laku di pasaran, seperti produk merek dagang : fitodiar, prolipid, enkasari, stimuno, dan lain-lain.

Masyarakat kampung di lingkar kampus IPB Darmaga juga telah memanfaatkan tumbuhan obat. Kegiatan pemanfaatan tumbuhan obat perlu terus dipertahankan melalui kegiatan konservasi oleh masyarakat kampung itu sendiri secara mandiri.

“Berdasarkan latar belakang inilah kami membina sejumlah rumah tangga di sekitar desa lingkar Kampus IPB, khususnya penduduk Kampung Gunung Leutik, Desa Benteng, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor untuk membentuk “Kampung Konservasi Taman Tumbuhan Obat Keluarga atau disingkat TOGA,” ujar Dr. Amzu.

Konservasi yang dimaksud disini tidak hanya tanaman obatnya, namun juga mencakup kebiasaan,budaya, perilaku masyarakat setempat dalam menjaga, mengelola, dan memanfaatkan tanaman tersebut sebagai obat keseharian serta taman/bentang alam/lansekap tempat tumbuh keanekaragaman jenis tumbuhan obat.

Proses pembentukan “Kampung Konservasi TOGA” ini tidaklah tiba-tiba. Tim peneliti merintis ide kampung konservasi ini sejak dua tahun silam.

Pertama-tama tim peneliti melakukan kajian potensi desa contoh lingkar kampus untuk menetapkan model Kampung Konservasi TOGA. Selanjutnya, tim peneliti membentuk kelompok kader konservasi TOGA. Tercatat sudah 15 rumah tangga menjadi kader.

Mereka mengikuti berbagai pelatihan konservasi mulai dari budidaya, pasca panen, cara penggunaan & pengobatan, pembuatan produk-produk obat tradisional dari tetumbuhan dan juga pemasarannya.

Tim peneliti juga memberikan pendampingan masyarakat dalam pembangunan Rumah TOGA, sebagai pos koordinasi atau posko bersama, sekaligus sarana proses sosialisasi dan promosi TOGA kepada masyarakat.

Dr. Amzu menyatakan, “Kampung Konservasi TOGA” adalah strategi konservasi (pelestarian pemanfaatan) keanekaragaman hayati saat ini dan masa mendatang, khususnya melalui stimulus manfaat tumbuhan untuk bahan obat-obatan melalui konsep konservasi Bio-cultural-diversity.

Konservasi ini mencakup mengkonservasi atau melestarikan kampung sebagai unit ekosistem terkecil dan terdepan yang meliputi ekosistem desa/kampung, masyarakat beserta sosio-budaya-ekonominya dan keanekaragaman hayati, dalam hal ini difokuskan tumbuhan obat.

Tercatat 237 jenis tumbuhan obat yang ditemukan di kampung Gunung Leutik yang luasnya sekitar 35 hektar dan 15 jenis diantaranya dikembangkan untuk menjadi TOGA unggulan. Tumbuhan obat unggulan tersebut antara lain: takokak, temulawak, jahe dan jahe merah, pegagan, jeruk nipis, binahong, mahkota dewa, rosella, sirih, brotowali, kenikir, salam, duwet dan sirsak.

“Kami memprioritaskan tumbuhan obat yang terdapat di daerah pemukiman bersangkutan dan ditambah beberapa jenis langka. Tumbuhan itu mudah dikembangbiakan, ditanam, dipelihara, dapat dikeringkan menjadi simplisia.

Selain itu dapat diolah menjadi berbagai bentuk produk, seperti teh, sirop, instan, serbuk di kapsul, bubuk seduhan, cairan, godogan, dan cara sederhana lainnya.

Selain itu, kami memprioritaskan tumbuhan yang dapat dipergunakan untuk keperluan lain. Misalnya untuk sumber makanan, bumbu dapur, kayu bakar, bahan kerajinan tangan, dan sebagainya.

Yang terpenting pula, tumbuhan tersebut terancam kepunahannya,” papar Kepala Bagian Konservasi Keanekaragaman Tumbuhan, Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor ini.

Dr. Amzu menerangkan beberapa khasiat tanaman tersebut baik dari pengalaman empiris dan penelitian ilmiah yang telah dipublikasikan.“Takokak merupakan sumber vitamin A dan tanaman ini dapat mengobati sakit mata dan gangguan prostat. Binahong mampu menyembuhkan luka terbuka dan dalam, seperti operasi atau pasca melahirkan,” papar Dr.Amzu.

Pernah ada seorang balita di kampung tetangga mengalami blooding (berak darah), ibunya sudah ke Puskesmas dan diberi obat namun tak kunjung membaik.

Setelah balita itu mengkonsumsi binahong, pendarahannya mereda signifikan. Menurut hasil penelitian, South East Asia Food and Agricultural Science and Technology (SEAFAST) Center IPB, kenikir mengandung antioksidan tertinggi dari semua lalapan yang dikonsumsi masyarakat desa di Bogor.

Sementara sirsak mampu mengobati kanker. “Menurut penelitian di Amerika Serikat dan lebih 20 laboratorium terkemuka di dunia menemukan khasiat daun dan buah sirsak yang berawal dari pengalaman masyarakat tradisional di hutan Amazone dapat mengobati kanker dan tumor.

Kekuatan sirsak membunuh sel kanker menurut penelitian tersebut 10 ribu lebih kuat dibanding khemoterapi,” ujar Dr.Amzu. Pengalaman pada bulan Juni 2010 ini, ada seorang ibu di Kampung Cikampak Ciampea Bogor yang menderita kanker rahim sebesar mangga telah mencoba khasiat yang nyata dari rebusan daun sirsak ini.

Setiap hari, pagi dan sore sang ibu meminum segelas rebusan sepuluh lembar daun sirsak.

“Walhasil, selama dua minggu rutin meminum rebusan daun sirsak, kanker rahim sang ibu mengindikasikan mengecil drastis, hilang rasa sakitnya dan kondisi tubuhnya semakin baik,” tandas Dr. Amzu.

Keberhasilan konservasi dan pengembangan tumbuhan obat keluarga (TOGA) di Kampung Gunung Leutik, Desa Benteng Ciampea Bogor ditentukan oleh motivasi, pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat, khususnya dalam mengembangkan paket teknologi konservasi tumbuhan obat untuk kesehatan.

Diharapkan pengembangan “Kampung Konservasi TOGA” ini dapat mendorong kemandirian masyarakat di bidang pemeliharaan kesehatan keluarga sekaligus membuka lapangan pekerjaan dan menambah pendapatan masyarakat, sekaligus terwujudnya konservasi berbagai jenis TOGA.

“Kami harap masyarakat bisa menjadi dokter untuk diri sendiri dan mengurangi ketergantungan bangsa ini dari impor obat luar negeri,” ujar Dr.Amzu. Menurut data yang ada impor obat Indonesia diprediksi pada tahun ini saja bisa mencapai Rp 25 trilyun.

“Kampung Konservasi TOGA” merupakan model usaha kecil dalam konservasi tumbuhan obat dan kearifan lokal pengobatan tradisional masyarakat kampung setempat. Potensi tumbuhan obat Indonesia yang belum tergali masih besar.

Berdasarkan catatan lebih dari 20 ribu spesies tumbuhan obat yang digunakan oleh 80 persen penduduk seluruh dunia.

Sampai tahun 2007 Bagian Konservasi Keanekaragaman Tumbuhan Fakultas Kehutanan IPB telah melakukan kajian ethno-forest pharmacy (etno-wanafarma), dan tidak kurang dari 2039 jenis tumbuhan obat berasal dari hutan tropika Indonesia.

Keanekaragaman tumbuhan obat dan sekaligus indigenous knowledge yang terhimpun dalam berbagai etnis di kawasan hutan tropika Indonesia merupakan aset nasional strategis bagi kesehatan serta kesejahteraan umat manusia di dunia.

Setiap tipe ekosistem hutan tropika di Indonesia merupakan pabrik keanekaragaman hayati tumbuhan obat yang terbentuk dalam waktu sangat panjang.

Hasil interaksi sosio-budaya dan kearifan masyarakat lokal setempat. Untuk mengabadikan berbagai jenis dan resep obat dari tumbuhan dari Sabang hingga Merauke, Dr.Amzu dan tim telah membukukannya dalam 11 buah jilid buku, masing-masing setebal Novel Musashi karya Eiji Yoshikawa. (als)

JADILAH ORANG PERTAMA YANG MENGOMENTARI :



Dikirim oleh Al Sabili pada 07.14. dan Dikategorikan pada , , , , , , . Kamu dapat meninggalkan komentar atau pesan terkait berita / artikel diatas
Kang Lintas
Kang Lintas Kang Lintas Kang Lintas

2010 Berita Bogor. All Rights Reserved. - Designed by Berita Bogor